TUGU NOSARARA NOSABATUTU

Berlibur Bersama Ibunya Anak-anak

BERSAMA CUCU

Bersama Cucu, Alzaidan Syahid ... berlibur.

BERSAMA IBU DAN ANAK

Berlibur bersama Anak dan Ibunya Anak-anak.

BERDUA

Entah Apa Yang Direnungkan Waktu itu ...

NENEK dan CUCU

Alzaidan Syahid bersama Mamatuanya.

IBU, ANAK dan KEMENAKAN

Fitri dan Mamanya, bersama Azizah .

BERSAMA CUCU, ANAK dan KEMENAKAN

Alzaidan Syahid bersama Fitri dan Azizah.

IBU dan ANAK serta KEMENAKAN

Fitri Fajarwati dan Mamanya bersama Azizah.

NENEK dan CUCU

Alzaidan Syahid bersama Mamatuanya.

NENEK dan CUCU

Alzaidan Syahid bersama Mamatuanya.

Showing posts with label Masyarakat Adat. Show all posts
Showing posts with label Masyarakat Adat. Show all posts

Sunday, March 30, 2025

Ikat Kepala SIGA

          
          Menurut Kakek Lahasa (Tomaitawiya), diceritakannya kepada puteranya Abdullah (Tomaiyaro), kemudian diceritakan Abdullah (Tomaiyaro) kepada kami, bahwa sejak beliau berhenti jadi Totua nu Ngata (Kepala Kampung) Kalukubula, beliau diangkat sebagai  Totua nu Ada. Beliau bertugas sebagai Totua nu Ada yang ditunjuk oleh Magau Dolo Datupamusu, meskipun tinggalnya di Kalukubula yang waktu itu menjadi Wilayah Magau Sigi Biromaru.

Beliau menceritakan, bahwa Siga adalah pengikat kepala, bukan hanya sekedar sebagai penutup kepala seperti Toru, atau penutup kepala lain, yang saat itu wajib dikenakan oleh semua Totua nu Ada, maupun Totua nu Ngata. Tidak ada pengecualian untuk penggunaan Siga, karena sangat tergantung pada kesiapan yang ada. Tidak ada penjelasan mengenai warna, dan jenis apapun kain yang digunakan untuk mengikat kepala, bahkan waktu itu masih ada juga yang menggunakan kain dari Kulit Kayu. Semua yang digunakan untuk mengikat kepala, itulah yang disebut Siga, Dan adapula dari Ngata/Boya/Soki (Kampung) lain yang menyebutnya Higa, dll.

Tidak ada larangan bagi Masyarakat Adat lainnya yang menggunakan Siga, tergantung dari kesiapan dan persiapan dari warga itu sendiri. Hanya saya pada waktu itu tidak seorangpun yang berani memakai Siga yang sama persis seperti Magau. Bukan karena adanya larangan, atau ancaman sanksi Givu, tetapi adalah bentuk penghargaan dan penghormatan warga kepada sang Magau.


Ikat Kepala SIGA 

Sunday, March 23, 2025

Butuh Masyarakat Adat untuk Dunia yang Lebih Baik

 


           Diperkirakan terdapat 476 juta masyarakat adat didunia yang hidup tersebar di 90 negara. Jumlah mereka kurang dari 6 persen dari populasi dunia, tetapi menyumbang setidaknya 15 persen dari jumlah penduduk termiskin. Mereka berbicara dalam mayoritas dari sekitar 7,000 bahasa dan mewakili 5,000 perbedaan budaya di dunia.

          Masyarakat Adat adalah pewaris dan praktisi budaya yang unik dan cara-cara yang unik dalam berhubungan dengan orang lain dan lingkungan. Mereka telah mempertahankan sosial, budaya, ekonomi, dan karakteristik politik yang berbeda dengan masyarakat dominan di tempat mereka tinggal. Meskipun terdapat perbedaan budaya, Masyarakat Adat dari seluruh dunia memiliki permasalahan yang sama terkait perlindungan hak-hak mereka sebagai masyarakat yang berbeda.

           Masyarakat Adat telah mengupayakan pengakuan terhadap identitas mereka, cara hidup mereka dan hak mereka terhadap tanah tradisional, wilayah dan sumber daya alam selama bertahun-tahun. Namun, sepanjang sejarah, hak-hak mereka telah dilanggar. Masyarakat Adat saat ini, bisa dikatakan sebagai kelompok yang kurang beruntung dan rentan di dunia. Komunitas internasional saat ini mengakui bahwa diperlukan langkah-langkah khusus untuk melindungi hak-hak mereka dan menjaga budaya dan cara hidup mereka yang berbeda.

          Untuk meningkatkan kesadaran akan kebutuhan kelompok-kelompok populasi ini, setiap tanggal 9 Agustus diperingati sebagai Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia, yang dipilih sebagai bentuk penghargaan atas pertemuan pertama Kelompok Kerja PBB untuk Masyarakat Adat yang diadakan di Jenewa pada tahun 1982.


Dekade Bahasa Masyarakat Adat 2022 - 2032

       Setidaknya 40% dari 7.000 bahasa yang digunakan di seluruh dunia berada dalam tingkat kepunahan. Bahasa-bahasa adat sangat rentan karena banyak di antaranya tidak diajarkan di sekolah atau digunakan di ruang publik. Tahun ini, kami memulai tonggak penting lainnya untuk mengadvokasi budaya-budaya adat: Dekade Bahasa-bahasa Adat (2022 - 2032).


Sumber : DISINI

۞ PETA LOKASI Rumahku ۞
۞ MEDIA - SOSIAL ۞